Ban Botak, Seberapa Bahaya?

Ban Botak, Seberapa Bahaya?

Salah satu hal yang selalu diimbau untuk diperhatikan jelang melakukan perjalanan jauh adalah kondisi ban. Sederhananya, kalau sudah botak, berarti tidak aman. Segera ganti dengan ban yang alur atau pattern (kembangan) masih tebal. Tapi, seberapa bahaya sebenarnya?

Ahmad Nuril, mengatakan bahwa ban yang sudah tidak lagi memiliki alur, otomatis membuatnya tidak memiliki daya cengkram yang baik.

Dikhawatirkan, ban yang sudah tak memiliki alur yang sempurna akan sangat berbahaya ketika melintas di jalur cepat, apalagi basah, atau ketika melakukan pengereman.

“Ban tipis atau botak, fungsi cengkeram hilang. Pada kondisi ini biasanya rawan terjadi kecelakaan karena telat saat mengerem. Bukan orangnya yang telat menginjak pedal rem, tapi karena traksi ban yang sudah tidak memiliki daya cengkram, sehingga titik pengereman begeser drastis,” ujar Ahmad.

Bisa dibayangkan, di saat orang butuh untuk menghentikan laju, mobil masih tak terkendali karena ban tak sanggup sinkron dengan kemauan pengemudi atau peranti rem. Pada akhirnya, ban menjadi tersangka utama penyebab kecelakaan.

Selain pengereman, ban botak juga kerap menjadi ancaman saat mobil harus bermanuver. Daya cengkeram yang sudah kurang baik membuat ban tak mampu membelok sempurna saat dibutuhkan, sehingga berpotensi celaka.

Ahmad menambahkan, pada dasarnya ban memiliki fungsi untuk menahan beban, menahan guncangan, serta bertindak sebagai peranti keamanan. Ketiga hal ini wajib dipahami agar pemilik mobil mengerti bahwa ban memiliki tugas yang tidak kalah berat dengan mesin.

“Peran ban yang beragam sering dilupakan pemilik mobil. Parahnya, mereka jarang memperhatikan kondisi ban. Risikonya terlalu besar, dan ini yang perlu terus diedukasi,” ucap Ahmad.

About the Author

Chat with me